Serunya Wisata Anti-Mainstream ke Desa Adat di Indonesia

Serunya Wisata Anti-Mainstream ke Desa Adat di Indonesia
Source: nationalgeographic.co.id
Indonesia bukan hanya terkenal sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Nusantara ini juga dikenal dengan kekayaan budaya yang beragam. Dari Sabang sampai Merauke, ada ribuan suku dengan budaya yang berbeda-beda. Di antara ribuan suku tersebut, banyak yang masih eksis sampai sekarang dengan mendiami suatu desa tertentu. Menariknya, banyak desa-desa budaya yang membuka diri kepada para wisatawan. Pergi ke desa-desa yang menjadi tempat bersemayamnya budaya-budaya asli Indonesia itu tentu akan jadi pengalaman berkesan yang sulit untuk dilupakan seumur hidup.

Namun, rasanya terlalu sulit kalau harus mengunjungi seluruh desa adat yang ada di Indonesia karena jumlahnya terlalu banyak. Tapi setidaknya, kamu bisa datang ke 5 desa adat berikut ini untuk belajar tentang keberagaman yang ada di Indonesia. Check this out.

Siberut Selatan
Siberut merupakan salah satu pulau yang berada di kepulauan Mentawai di pesisir Barat Sumatra. Pulau ini adalah kampung halaman suku Mentawai yang tersebebar di banyak desa. Beberapa desa adat suku Mentawai yang bisa kamu kunjungi antara lain Desa Madobak, Ugai, dan Matotonan. Tiga desa ini adalah desa adat paling populer dan paling banyak dikunjungi wisatawan. Di desa adat ini, masyarakat asli Mentawai akan menerima kedatangan kamu dengan baik. Kamu juga bisa ikut terlibat dalam aktivitas sehari-hari mereka seperti berburu monyet, mengolah sagu, hingga membuat panah beracun. Di momen tertentu, kamu juga bisa melihat kesuruan dari atraksi budaya yang sering digelar di sana. Kamu pun dapat melnyaksikan langsung pembuatan tato Mentawai yang konon merupakan salah satu tato tertua di dunia.

Desa Sade
Desa ini adalah salah satu kampung halaman bagi suku Sasak yang menghuni pulau Lombok. Keunikan kampung adat ini terletak pada rumahnya yang masih memertahankan kearifan lokal. Konstruksi bangunan dibuat dari bahan-bahan alami dengan tiang kayu sebagai penyangga, anyaman bambu sebagai dinding, alang-alang sebagai atap, serta campuran sekam padi dan tanah liat sebagai lantai. Mereka pun masih menggunakan cara tradisional dalam membersihkan rumah, yaitu menggunkakan kotoran kerbau. Metode ini terbukti ampuh untuk menguatkan kontruksi, mengendapkan debu, dan mengusir hewan pembawa penyakit.

Desa Kete Kesu
Desa adat ini terletak di Toraja. Ciri khas desa ini terletak pada keuntikan kontruksi Tongkonan, rumah khas Toraja yang atapnya menyerupai bentuk perahu. Di desa ini, budaya warisan leluhur masih dipegang teguh, salah satunya adalah budaya pemakaman yang tidak biasa. Masyarakat Desa Kete Tesu tidak menguburkan jenasah di dalam tanah seperti pemakanan pada umumnya. Mereka justru menggantungkan jenazah pada sebuah tebing batu.  Ada juga yang memakamkan jenazah di dalam goa.

Desa Waerebo
Desa ini terletak di pedalaman Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ciri khas dari desa adat yang sudah bertahan lebih dari 19 generasi ini terletak pada jumlah bangunannya yang tidak boleh lebih atau kurang dari 7. Rumah yang disebut Mbaru Niang itu pun jadi tempat tinggal banyak kepala keluarga. Jika tingkat populasi di Waerebo sudah semakin tinggi, maka sisa penduduknya terpaksa harus meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan baru di desa terdekat. Penduduk desa adat ini sangat ramah. Banyak pengunjung dari dalam dan luar negeri yang bisa menginap di sana. Sangking ramahnya, masyarakat Waerebo akan menganggap para wisatawan sebagai saudara jauh yang sedang mampir. Mereka pun akan memberikan sambuatan berupa upacara yang di dalamnya berisi doa untuk keselamatan para pengunjung sampai mereka kembali ke rumah.

Desa Bawomataluwo
Kalau kamu ingin menyaksikan langsung tradisi loncat batu yang pernah diabadikan dalam uang pecahan 1000 rupiah, datanglah ke kampung adat Nias yang ada di Nias Selatan Ini. Tradisi lompat batu yang disebut Hombo Batu itu masih sering digelar di desa ini. Selain itu, ada banyak ciri khas lain dari desa adat ini seperti kontruksi bangunannya yang tidak memakai paku sampai situs-situs Megalitikum. Desa Bawomatalumo ini memiliki arti bukit matahari. Letaknya pun terletak di atas bukit setinggi 270 Mdpl. kono, leluhur masyarakat Nias sengaja memilih dataran tinggi sebagai tempat tinggal untuk bersembunyi dari serangan musuh. Ini karena leluhur Nias terkenal sebagai kelompok petarung yang tidak gentar menghadapi lawan demi menjaga teritorial mereka.

Desa-desa di atas cuma sebagian kecil dari keberagaman budaya yang ada di indonesia. Namun dengan liburan ke desa-desa tersebut, kamu akan mendapat pengalaman berharga yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup. Jadi, ayo booking tiket pesawat sekarang juga dan kunjungi desa-desa adat yang ada di Indonesia. Kamu bisa pergi ke sana menggunakan berbagai maskapai penerbangan murah, salah satunya Sriwijaya Air. Cari tiket pesawat Sriwijaya Air di Reservasi.com agar kamu bisa endapatkan penawaran harga terbaik.

Masukkan Alamat Email Anda di Bawah ini