Wisata Religi Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Selain terkenal dengan Wisata Alam nya, Kalimantan Selatan juga memiliki banyak destinasi wisata religi seperti masjid atau surau tua dengan arsitekturnya yang khas hingga makam-makam para ulama. Kabupaten Banjar misalnya, memiliki beberapa destinasi wisata religi. Salah satu nya yang paling terkenal adalah Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari.

Sosok Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari memang dikenal sebagai seorang ulama yang alim dan saleh di masanya. Makam beliau berada di Desa Kalampayan Tengah, Kecamatan Astambul, Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Karena bermakam di Desa Kalampayan Tengah, oleh orang-orang Banjar, ulama kharismatik ini kemudian sering digelari Datuk Kalampayan. Semasa hidupnya beliau, ulama bermazhab Imam Syafi'i ini mengabdi sebagai mufti atau tokoh agama di Kerajaan Banjar.

Sejarah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

http://www.wisatakalimantan.com/2016/07/wisata-religi-makam-syekh-muhammad-arsyad-al-banjari.html
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir di Lok Gabang pada tanggal 17 Maret 1710 dan beliau meninggal di Dalam Pagar Martapura pada tanggal 3 Oktober 1812 dengan umur 102 tahun. Beliau adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di daerah Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah dan mendapat julukan anumerta Datu Kelampayan. Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa Beliau adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao. Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al-Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al-Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al-Idrus Al-Akbar (datuk seluruh keluarga Al-Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al-Ghoyyur bin Muhammad Al-Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbathbin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al-Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al-Imam Muhammad An Naqib bin Al-Imam Ali Uraidhy bin Al -mam Ja’far As Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Sayyidina Husein bin Al-Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Masa Kecil
Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahiran beliau, Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Beliau bergaul dan bermain dengan teman-temann sebaya nya. Namun pada diri beliau sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya. Begitu pula akhlak budi pekerti beliau yang halus dan sangat menyukai keindahan. di antara kepandaian beliau adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisan beliau akan Terkagum-kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di Istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. di Istana, beliau tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada orang yang lebih tua. Seluruh penghuni Istana menyayanginya beliau dengan kasih dan sayang. dan Sultan sangat memperhatikan pendidikan beliau, karena Sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Menikah dan menuntut ilmu di Mekkah

Setelah mendapat pendidikan penuh di Istana hingga pada usia beliau mencapai 30 tahun. Kemudian beliau dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. saat istri beliau mengandung anak pertama, terlintaslah dihati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka di sampaikan beliau lah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta. Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isteri beliau mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari Sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergian beliau.

Di Tanah Suci, Beliau belajar kepada Masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antaranya, guru beliau adalah Syekh Athaillah bin Ahmad Al-Mishry, Al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dan Al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Samman Al-Hasani Al-Madani.

Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan Suluk dan Khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai Khalifah. Selain itu guru-guru Beliau yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman Al-Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.

Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad Al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri Al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu). Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah, timbulah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini di sampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar ke empat muridnya ini untuk pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di kotanya masing-masing.

http://www.wisatakalimantan.com/2016/07/wisata-religi-makam-syekh-muhammad-arsyad-al-banjari.html
Menikahkan anak
Sebelum pulang ke Indonesia, ke empat sahabat sepakat untuk berhaji kembali di Tanah Suci Mekkah. Pada saat itu tanpa disangka-sangka Syekh Muhammad Arsyad bertemu dengan adik kandung dia yaitu Zainal Abidin bin Abdullah yang sedang menunaikan ibadah haji. Sang adik membawa kabar berita bahwa anak dia yaitu Fatimah sudah beranjak dewasa dan sang anak menitipkan cincin kepada dia. Melihat hal demikian, ketiga sahabat Syekh Muhammad Arsyad masing-masing mengajukan lamaran untuk memperisteri anak beliau. Setelah berpikir dengan matang, Beliau memutuskan untuk mengundi, lamaran yang akan diterima. Hasil pengundian ternyata lamaran Syekh Abdul Wahab Bugis lah yang diterima.

Untuk itu di adakan lah ijab kabul pernikahan antara Syekh Abdul Wahab Bugis dengan Fatimah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang dinikahkan langsung oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan disaksikan dua sahabat lainnya.

Membetulkan arah kiblat Masjid

Maka bertolaklah ke empat putra Nusantara ini menuju kampung halaman masing-masing. Memasuki wilayah Nusantara, mula-mula mereka singgah di Sumatera yaitu di Palembang, kampung halaman Syekh Abdussamad Al-Falimbani. Kemudian perjalanan di lanjutkan menuju Betawi, yaitu kampung halaman Syekh Abdurrahman Misri. dan selama di Betawi, Syekh Muhammad Arsyad diminta menetap sebentar untuk mengajarkan ilmu agama dengan masyarakat Betawi. Salah satu peristiwa penting selama beliau di Betawi adalah ketika beliau membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Masjid Jembatan Lima menuliskan di atas batu dalam aksara arab melayu (tulisan jawi) yang bertuliskan bahwa kiblat Masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada tanggal 4 Safar 1186 H. Setelah dirasa cukup, maka Syekh Muhammad Arsyad dan Syekh Abdul Wahab Bugis berlayar menuju kampung halaman ke Martapura, Banjar.

Tiba di Kampung Halaman
Pada Bulan Ramadhan 1186 Hijriah bertepatan dengan 1772 Masehi, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halaman beliau, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.
Akan tetapi, Sultan Tahlilullah yang telah banyak membantunya telah wafat dan di gantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan dia dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, Sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang Alim. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.

Hubungan dengan Kesultanan Banjar
Pada waktu beliau berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmu beliau, barulah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kembali pulang ke Kalimantan Selatan. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu SultanTahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar. Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.

Pengajaran dan bermasyarakat

Makam Datu Kalampayan yang sering dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam.

Ulama-ulama yang di kemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar, Martapura. di samping mendidik, Beliau juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitab Beliau yang paling terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tetapi sampai ke seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.

Karya-karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

http://www.wisatakalimantan.com/2016/07/wisata-religi-makam-syekh-muhammad-arsyad-al-banjari.html
Kitab karya beliau yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya beliau adalah.

- Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,
- Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,
- Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
- Kitabul Fara-idl, hukum pembagian warisan.

Dari beberapa risalah beliau dan beberapa pelajaran penting yang langsung di ajarkan beliau, oleh murid-murid beliau kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang Syarat Syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.

Demikian lah sedikit Sejarah tentang Ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang akrab dengan sebutan Datuk Kelampayan yang selalu ramai di kunjungi/ziarahi oleh masyarakat Kalimantan Selatan dan masyarakat luar Kalimantan.

Masukkan Alamat Email Anda di Bawah ini